Belajar memberkati orang jika engkau mau diberkati orang

My CerPen

RAISING THE STANDARD WITH RAISING THE STANDARD WITH GUNADARMA UNIVERSITY (Diary Kelly, Cinta, Persahabatan, Budaya, dan teknologi) “Kelly Salomo Tahitoe”, aku mengeja namaku yang tercetak di kertas pengumuman kelulusan SMAku. “Huf.. Akhirnya gue lulus juga”, gumamku sambil melihat nilai UAN ku yang lumayan bagus yaitu 49,5. Hari ini adalah hari senin, dimana pengumuman kelulusan SMA ku di umumkan. “Ge,Bar!”, sahutku kepada Sage dan Akbar teman SMAku yang juga sudah dinyatakan lulus juga.. Mereka berdua kemudian menghampiri ku. “Ge, loe mau kuliah dimana?”, Tanyaku membuka pembicaraan. Sage adalah teman SMAku yang tegar, dulu dia adalah atlet sepeda yang cukup berprestasi, terbukti dari piagam emas,perak, dan perunggu yang tergantung di kamarnya. Dia sempat ketinggalan kelas 1 tahun sewaktu kelas 1 SMA karena kakinya terlindas bus saat terjatuh sewaktu latihan sepeda didaerah puncak bogor. Walau begitu setahun berikutnya ia masuk sekolah kembali dan bersama aku yang baru masuk SMA.“Gue kuliah di Sahid sepertinya”,jawabnya. “oh, gue tau.. Loe masuk kampus itu karena cewenya cantik-cantik kan!?, aku mencoba menggoda sage. “Yah, dikit-dikit boleh”, jawabnya sambil tertawa. “Loe sendiri?”, Sage balik bertanya kepadaku. “Gue belum tau ge. Nyokap gue sich suruh gue kuliah di Gunadarma ambil jurusan mengenai komputer gitu dech”, jawabku sambil menunduk malu. “Wah.. knapa musti malu kel, Emang bagus sich kata orang kuliah komputer disana”, jawabnya.. “Iya sich”, jawabku masih memelas. Universitas Gunadarma memang universitas yang terkenal karena lulusan fakultas komputernya sangat berkualitas, tapi tetap saja saya sedikit memelas karena saya ingin sekali masuk perguruan tinggi negri semacam UI, tapi gagal. Lagi pula saya juga dapat beasiswa berupa potongan uang kuliah di Gunadarma karena hasil tes saya dari kampus tersebut masuk kategori Grade 1. Jadi saya berusaha untuk pasrah masuk kampus yang sering di ejek UGMnya Depok(Universitas Gunadarma Margonda) “Hahaha.. Belajar terus yang rajin sampai pinter”, Akbar meledek memotong pembicaraanku dengan sage. “Gaya loe bar.. Mentang-mentang sudah lulus tamtama”, sahutku. Akbar adalah salah satu temanku yang sudah dinyatakan lulus menjadi anggota Tamtama AU. Dia mengambil keputusan menjadi TNI AU atas dasar kemauan diri sendiri dan mungkin karena keinginan Ayahnya juga karena Ayahnya sewaktu muda pernah ikut tes semacam dia juga, tapi gagal karena masalah mata yang minus. “ Yasudah, mending sekarang kita merayakannya dirumah gue”, ajak Akbar sambil menepak bahuku. “Ok”, Jawabku juga sage sambil jalan menuju keparkiran tempat motor kami diparkir. Kita bertiga memang suka main bersama. Singkat Cerita, akhirnya saya masuk Universitas Gunadarma Depok mengambil jurusan D3 Manajemen Informatika. Walau masih menyisakan rasa menyesal dan bingung kenapa saya harus masuk Kampus ini!? Tapi, saya mencoba menghilangkan pikiran tersebut dan berkata-kata positif dalam hati kalau universitas ini masih punya keunggulan di bidang IT dan kalau kesuksesan itu didapat berdasarkan diri sendiri. Saya juga kuliah untuk menaikkan standard kehidupan. Sebab keluarga kami adalah keluarga yang bisa dibilang pas-pasan. Saya kuliahpun karena bantuan dana saudara. Jadi, saya harus manfaatkan kesempatan ini dengan baik. Masalahnya, apakah saya bisa berhasil dengan kuliah dikampus Gunadarma. Entah mengapa perasaan menyesal itu masih timbul. Akhirnya saya melangkahkan kaki untuk yang pertama kalinya dikampus Gunadarma Depok,kampuz yang berjarak tidak terlalu jauh dari rumahku. Kurang lebih jaraknya 12 Km dari rumahku. Aku tinggal di Pondok Sukatani Permai Cimanggis-Depok. “Aduh telat lagi”,gumamku sambil merapihkan pakaianku. “Kamu kenapa telat?”, Tanya salah seorang anggota BEM mengagetkanku yang tampak panik masuk ke halaman kampus. “Macet ka!”,aku mencoba berbohong. “Memang Rumah kamu dimana?”, Tanyanya dengan nada ketus. “Rawamangun ka!”, aku mencoba menipu lagi. Untungnya ia percaya saja, tapi saya tetap saja kena hukuman. “Yasudah cepat masuk, tapi jalan jongkok sampai ke tempat kelompokmu berkumpul!”, perintahnya masih dengan nada ketus. “Iya ka”, aku mengiyakan saja sambil memalingkan muka darinya toh jaraknya tidak jauh. Hari ini adalah kegiatan Ospek jurusanku. Aku menjalani kegiatan pertamaku di kampus ini dengan letih lesu. Hari pertama belajar, Kampuz E Gunadarma.“Aduh mana kelas gue ya?”, tanyaku dalam hati tentang ruangan kelas saya waktu awal masuk untuk belajar. Catatan dalam file ku tertulis E321. Yang saya tau kalau saya kuliah di kampuz E yang berada setelah perempatan lampu merah kelapa 2. Tapi, saya tidak tau gedung 3 dimana. Akhirnya saya memberanikan bertanya kepada seorang mahasiswa yang tampaknya adalah mahasiswa lama. Mungkin karena didahinya tertuli kata LAWAS,hahaha..Tidak, saya lihat dia lebih dewasa. Dan ternyata tebakan saya benar, dia adalah mahasiswa semester 5 dikampus ini. “Sorry mau tanya, ruangan E321 dimana ya?”, tanyaku malu-malu sambil mendekatinya. “Oh, itu maksudnya Kampus E gedung 3 lantai 2 ruang 1!”, jawabnya sambil menunjukan letak gedung 3 berada. “Mahasiswa baru ya!?”, tanyanya balik sambil tersenyum simpul. Aduh ketauan deh klau saya mahasiswa baru, padahal sudah berdandan gaya anak gaul kampus gumamku dalam hati. “Iya ”, jawabku sambil menunduk malu. “Oke deh, Makasih ya!”, Seruku kepadanya sambil melambaikan tangan menuju ke gedung yang ia tunjukkan. Akhirnya sampailah saya di ruang E321. Saya masuk keruangan tersebut dengan malu dan takut salah ruangannya. Saya masuk ke ruang tersebut dengan sorakan “Andji Drive!” dari beberapa wanita yang tampaknya sudah saling akrab, mungkin karena tampang saya mirip vokalis drive yang bernama andji. Hahah, aya-aya wae ya. Suasana di ruangan itu tampak tidak terlalu ramai seperti di SMA dulu, hanya beberapa orang yang sudah mulai akrab yang berbicara. Akhirnya saya duduk di barisan ke 2 dari depan di samping seorang pria yang sedang sendirian juga. “Nam loe sapa?”, tanyaku memberanikan diri bertanya duluan. “Benry Leonardo”, Jawabnya sambil menengok pada saya. “Ohh, Kelly” Aku memperkenalkan diri. “Alumni mana?”, Tanyaku lagi. “SMA Slamer”, jawabnya yang langsung aku mengerti. “Emm, klau gw dari SMA 4 depok”, seruku lagi. “Elo kenapa masuk Kampus ini?”, Tanyaku. “Ga tau, cari kegiatan aja”, jawabnya sambil menunduk dan memainkan kakinya. “ohh”, jawabannya semakin menurunkan motivasi ku untuk kuliah disini. Akhirnya kami berbincang dan menjadi akrab. “If I die tomorrow, at be all right because I belive. That after we gone, the spirit carries on”, nada panggilan berupa lagu dari band Dream Teather pada ponsel ku berbunyi. “Hallo sapa ne?”, tanyaku. “ Benry ne, cepet ke kelas gue sudah di kelas”, serunya.. “ohh,ok”, jawabku sambil menaiki tangga menuju ke ruangan kelasku karena aku memang sudah sampai kampus. Saya dan Benry memang sudah mulai akrab, sebab seminggu ini kita hanya berbincang ber 2 di kelas. Dosen pada hari itu cukup baik-baik dan modern, membuatku sedikit menambah nilai positif tentang kampus ini. Minggu ke 2 belajar dikampus ini cukup menyenangkan. Saya dan benry sudah mulai akrab dengan teman-teman di kelas kami, terutama yang laki-laki. Saya dan Benry mulai dikenal bahkan jadi terkenal di kelas kami sebab kami termasuk orang yang pandai melawak dan mudah bergaul. Keragaman budaya disini juga sangat unik dan kita semua rata-rata sederhana. Banyak perantau, Teman- teman yang mungkin sulit didapati dikampus lain. Hehehe.. Dan Sepulang kuliah kami sering berkumpul dan bercengkrama di DPR (Depan Pohon Rindang) Kampus G Universitas Gunadarma.“Don’t waste your time only your all ready the voiche inside my else.. I miss you”, begitulah suara ring back tone dari ponsel benry yang saya dengar, maklum dia adalah penggemar berat Band Blink 182. “ya, knapa ly?” Suaranya mulai terdengar menjawab dari ponselnya. “ kuliah g a loe?”, tanyaku agak berteriak. “iya, loe masuk duluan aja ke kelas di G122 kan!?, serunya agak berisik. Mungkin ia sedang ada di jalan. “Ok”, jawabku kemudian mematikan ponselku. Akhirnya saya sendirian memasuki ruang kelas. Baru saya melangkah di ruang kelas, pandangan saya berhenti pada seorang wanita yang sedang duduk sendirian dikelas. Saya baru melihatnya, mungkin dia telat daftar kuliah disini atau memang baru masuk minggu ini. Wanita itu putih bersih, tapi sedikit jutek. Saya sempat terpesona dan jantung saya berdetak kencang, tapi saya berusaha untuk tetap cool dan bergabung dengan teman-teman saya sambil terus memandangnya dari sisi kelas. Lalu saya beranikan bertanya pada teman saya Aji yang berada disamping saya. “Ji, cewe yang duduk sendiri disana sapa”, tanyakku sambil menunjuk ke arah wanita itu kepada teman kelasku yang bernama aji. “Ga tau ly. Baru mungkin!?”, jawab aji sambil menerka-nerka. “ohh”, okelah kalau begitu”, gumamku sambil kembali memperhatikan wanita itu. “Woi”, Satu tepukan dari belakang pudakku membuyarkan lamunanku. Ternyata itu benry. “Ngeliatin apa si loe ly sampai ngelamun segitunya?”, Tanya benry bingung. “Cewe itu ben!”, jawabku sambil menunjuk ke arah wanita yang sedang duduk di bangku depan sendirian itu. “Sapa tuh ly? Cantik banget.. hahaha” tawa benry memecah suara di kelas. “iya ben, dari tadi gue liatin tapi gw ga kenal sapa dia!?”aku mencoba menjelaskan pada benry. “Ah, suka loe y!?”, benry mulai menggodaku. “ah, biasa aja ben!”, jawabku padanya berusaha menutupi. Lalu aku kembali melanjutkan lamunanku. Tidak lama kemudian Devi dan Chesa yang sudah kami kenal mendekati wanita tersebut. Mereka tampak berbincang dan wanita itu hanya sedikit menjawab. Tampaknya wanita ini susah bergaul. Sepanjang perkuliahan hari itu, pikiranku hanya tertuju pada wanita itu. Membuatku jadi tidak fokus menerima pelajaran dari dosen. Sepulang dari kampus aku jadi kepikiran wanita itu. Tapi aku mencoba untuk mengalihkannya. Sebulan berlalu sudah saya menuntut ilmu di kampus ini. Budaya dan fasilitas laboratorium komputer juga dosen yang modern, mulai menumbuhkan motivasi saya kuliah di kampus ini. Betul, saya senang jika belajar di laboratorium karena dengan praktek saya jadi cepat mengerti tentang pengajaran teori dari dosen. Terutama karena wanita berkulit putih dan berambut sedikit pirang yang saya temukan di kelas saya itu. Tapi sampai saat ini saya belum sempat berbicara dengan dia. Akhirnya kesempatan yang saya tunggu-tunggu itu datang juga, saya mendapat kesempatan berbicara dengan wanita itu. Saat itu benry dan saya sedang berdiskusi tentang tugas yang diberikan dosen dan pada saat itu juga wanita itu duduk tepat dibelakang saya. Ohh, melihat kesempatan itu jantung dan darahku berdetak dan mengalir sangat cepat. Apa mungkin saya jatuh cinta!?, tanyaku dalam hati. Entah keberanian dari mana yang saya dapat, akhirnya saya menyapa wanita yang duduk tepat dibelakang saya itu. “Hai, baru datang?”, tanyaku berbasa-basi dengan menengok kebelakang. “iya”,jawabnya simple. “Namanya sapa, kayanya belum knal? Tanyaku lagi. “Jaclins”, jawabnya dengan menatapku. “Kelly”, aku memperkenalkan diri. “Orang apa?”, tanyaku lagi. “Palopo”, jawabnya kini dengan sedikit senyum yang membuat jantung saya semakin berdetak kencang. “emm, Sulawesi ya!?” aku berusaha menebak. “iya”,jawabnya lagi. “Kirain orang cina!?” aku mencoba berkelit. Maklum kulitnya sangat putih dan matanya sedikit sipit. Lalu saya berbincang-bincang dengannya, hingga mendapatkan nomor ponselnya. Hari setelah perbincangan itu membuat saya suka salah tingkah di kelas. Kesempatan untuk berbincang dengannya untuk ke 2 kalinya akhirnya datang. Chesa teman Jacklins mengajak saya, benry dan aji juga ken teman kelas saya untuk ngeband di studio miliknya. Kebetulan Jacklins ikut di ajak chesa, hal yang memang sudah saya harapkan. Namun saya terlalu berhayal, sebab jacklins tidak banyak bicara dengan saya tapi malah sibuk telepon dengan orang yang tidak saya tau. Saya curiga itu pacarnya, hal yang membuat hati saya luluh lantak. Tapi setelah pulang dari sana saya beranikan sms dia untuk pertama kalinya. Saya bilang kalau saya pamit pulang dulu. Lalu dia membalasnya dengan berkata “iya, hati-hati ya!”. Waw Kata-kata itu membangun kembali semangat saya yang sempat down. Dari smsan itu saya dapat jawaban kalau tadi dia sedang menelepon mamanya, hal itu membuat saya senang sekali. Dua minggu berjalan, akhirnya saya semakin akrab saja dengan Jacklins. Sampai suatu ketika Oky teman kelas saya yang dekat dengan jacklins memberikan pernyataan yang betul-betul mengagetkanku. “Ly sini”, suara dari sisi kelas memanggilku. Ternyata itu oky teman kelasku. “Kenapa ky?” Tanyaku bingung menengok padanya. “Sini dulu” ajaknya sambil melambaikan tangan menyuruhku menghampirinya. Lalu aku putuskan untuk menghentikan sejenak kegiatanku yang sedang ngobrol dengan benry dan aji, lalu berjalan menghampiri oky. “Loe mau ngomong apa sich, teriak dari sini juga gw masih denger!” jawabku sedikit ketus pada oky. “Jacklins suka sama loe ly”, bisiknya di telingaku. Pernyataan itu sontak membuat saya kaget, bingung tapi betul-betul bahagia mendengarnya. Tapi saya belum percaya,walau oky tampaknya tidak berbohong. “Ah ada-ada aja loe ky. Kapan dia ngomongnya?” tanyaku berusaha mencari tau. “Kemarin di rumah chesa, waktu gw ngerjain tugas bareng dia dan chesa juga devi”, oky berusaha menjelaskan. Mereka berempat memang satu kelompok dalam tugas Algoritma dan Pemrograman dasar. “emm, itu aja yang loe mau omongin”, jawabku mencoba tetap cool untuk menyembunyikan sukacitaku. “cie-cie”,oky berusaha meledekku. Tapi aku hanya tersenyum simpul saja sambil menjauh dari oky dan kembali duduk bersama benry. “Kenapa ly?” Tanya benry berusaha mencari tau apa yang aku omongin dengan oky. “ga kenapa-kenapa ben, si oky ngomongin dyah lagi” jawabku berbohong pada ben. “ohh”, ben Cuma mengiyakan saja. Aku memang orang yang pemalu bicara urusan cinta pada temen. Lalu saya beranikan untuk bertanya dengan devi teman jaclins. Saat itu devi sedang berada di kosan jacklins yang berada di perempatan lampu merah kelapa dua, sedang mengerjakan tugas LP. Saya janjian bertemu devi di warung soto depan kampus. Akhirnya devi datang juga.”Dev, emang bener jacklins suka sama gue?,tanyaku padanya yang baru ingin duduk. “Aduh apa-apaan si loe, baru aja gue mau duduk udah langsung ditanya begituan” jawabnya sedikit jengkel lalu duduk. “Iya, dia emang suka sama loe”, jawabnya yang membuat hatiku semakin bergejolak. Lalu devi berusaha menjelaskannya dan saya juga menjelaskan kalau saya suka dengan jacklins. Lalu susedah becara devi pamit balik kekosan jacklins sebab jacklins dan chesa sedang menunggunya. Peristiwa dikampus hari itu betul-betul membuat saya sulit tertidur. Bahkan sampai lupa makan malam. Lalu karena dukungan devi teman dekatnya, saya menyatakan cinta saya lebih dulu kepada jaclins lewat sms ponsel. Tapi jawaban yang tidak saya harapkan mucul. Dia menjwab lewat smsnya kalau dia masih bingung dan tidak tau. Jawaban itu kembali membuat mental saya down, padahal devi teman dekatnya sudah menjelaskan kalau jacklins memang suka juga pada saya. Akhirnya keesokan harinya saya beranikan diri untuk berbicara langsung dengannya. Mungkin dengan begitu dia bisa jujur akan hatinya. Tapi jawaban yang sama saya dapatkan waktu saya berbicara dengannya dikosnya. “Lin kenapa kamu diem saja?” tanyaku penuh harap. Tapi dia masih saja diam, duduk sambil menatap computer. Untunglah Tuhan berbaik hati pada saya, sewaktu saya ingin pulang. “Lin, yasudah ly pulang saja ya!? kalau memang belum bisa menerima ly, ly akan menjauh dari kamu dan tidak akan ganggu kamu lagi”begitulah jawaban ku yang sudah pasrah. akhirnya sebelum saya melangkahkan kaki saya keluar dari kosnya, dia memanggilku. “Ly bener sayang?” tanyanya padaku sambil melihat mataku. “ iya, sungguh” jawabku meyakinkanya. “Yasudah, kita coba saja”, jawabnya penuh kepastian. “Lin serius?”, jawabku merinding mancari kepastian. “Iya”, jawabnya lagi meyakinkanku yang masih kaget. “Hore.. Makasih ya jacklins”, jawabku padanya sambil memeluknya tanpa sadar. Sesudah itu kami mengobrol dan bermesrah-mesraan menghabiskan waktu berkunjung kos, yaitu jam 9 malam.. Jawaban yang sudah saya nantikan dari awal saya menatapnya. HUf,akhirnya. Kembali kekampus, saya semakin bersemangat karena saya sudah mendapatkan calon jodoh saya. Saya dan Jacklins semakin mesra saja dan berkomitmen untuk membawa terus hubungan ini dengan serius sampai ke jenjang pernikahan. Kami Pacaran dengan sembunyi-sembunyi di kelas, hanya devi,chesa dan benry yang tau betul kita sudah jadian. Walau akhirnya ketauan juga. Dari jacklins, saya baru tau kalau dia sudah suka sama saya sejak awal dia masuk kuliah,. Ternyata dia juga memperhatikan saya saat saya masuk ruangan. Dan Tuhan memang sudah mempertemukan kami di Kampus Gunadarma. Saat ini saya Cuma bisa bersyukur menjalin hubungan dengan wanita yang saya cintai. Tidak terasa sudah satu tahun saya menuntut ilmu di kampus ini. Sedikit demi sedikit pandangan saya akan kampus berbalik 180 derajat semakin membaik. Dosen dan fasilitas juga pembelajaran dari kampus ini yang mengubah pandangan buruk saya dulu tentang kampus ini. Apalagi saya sudah mendapatkan Kekasih disini.. hahaha.. senangnya. Teman-teman yang dulu mengejek kampus ini juga mulai memuji kampus ini setelah melihat ilmu yang saya sudah dapat di kampus Gunadarma dapat saya terapkan untuk membantu mereka yang tidak terlalu mengerti soal komputer. Walau itu memang menjadi salah satu alasan saya semangat kuliah tapi sebenarnya bukan itu yang membuat motivasi akan kuliah saya disini semakin bertambah. Tapi itu terjadi saat saya mengikuti satu kegiatan agama di kampus. Saya baru mengerti kalau perjalanan hidup kita sudah dirancang sedemikian rupa, bahkan sebelum dunia dibentuk. Jadi, bukan suatu kebetulan saya kuliah di Kampus Gunadarma. Ternyata betul kan, saya temukan Cinta saya juga teman-teman yang saling mendukung dalam kegiatan pembelajaran di kampus ini. Akhirnya, setelah empat tahun menimba ilmu dikampus ini saya lulus juga dari kampus Gunadarma dengan sarjana S1 Sistem Informasi setelah sebelumnya lulus dari D3 Manajemen Informatika. Kelulusan yang sempurna karena bukan sekedar lulus, tapi saya mendapat ilmu yang di perlukan oleh banyak perusahaan besar. Ilmu yang sesuai dengan IPK saya, yaitu 3,73. Kampus ini sudah membentuk saya menjadi orang yang hebat. Disini saya belajar banyak, bukan hanya mengenai tegnologi komputer yang menjadi pandangan awal saya mengenai kampus ini tapi juga tentang cinta, persahabatan, keanekaragaman budaya, dan yang pasti teknologi yang modern. Sekarang saya bekerja Sebagai Staff Admin di sebuah perusahaan besar di Indonesia. Dengan Penghasilan saya, cukup untuk Memiliki Mobil pribadi kelas atas dan Rumah mewah di kawasan elite Jakarta juga yang pasti menaikkan taraf hidup keluarga saya yang dulu sering diremehkan bahkan di ejek tetangga. Benry teman pertama saya di kampus ini pun sudah lulus dan menjadi manager IT di salah satu perusahaan besar Jakarta. Dia juga menemukan Cinta sejatinya Di kampus ini dan telah menikah bahkan sudah memiliki 2 putra. Kami masih sering bertemu dan bercengkrama tentang kehidupan sekarang juga dulu di kampus ini. Dan yang pasti saya menikah dengan orang yang tepat. Wanita yang saya cintai yang saya temukan di Universitas Gunadarma. Semuanya karena pengajaran dan budaya yang di tularkan Universitas Gunadarma. “Raising The Standard”. Itu yang menjadi motivasi saya untuk belajar serius di Universitas Gunadarma. Sebab saya berasal dari keluarga yang boleh dibilang pas-pasan. Tapi bersama Universitas Gunadarma saya berhasil menaikkan standard hidup saya. Thank for the Lord and Gunadarma University and all friends at Gunadarma University. Selesai.. Catatan : Ini adalah karangan dan fiktif belaka yang ditulis berdasarkan kehidupan mahasiswa yang mungkin sering terjadi di lingkungan Universitas Gunadarma. Penulis mohon maaf jika ada kesamaan peristiwa atau kejadian, juga nama tokoh yang sama dialami oleh Mahasiswa Universitas Gunadarma. Semua itu mungkin hanya suatu kebetulan, sebab penulis mengarang cerpen ini tanpa mengutip dari cerita manapun. Mohon maaf jika masih ada banyak kesalahan yang membuat pembaca kurang puas karena cerpen ini dibuat seorang yang baru belajar menulis cerpen kurang dari 6 jam. Oleh sebab itu diminta kesediaannya mengomentari cerpen ini melalui wartawarga universitas gunadarma, FB dan e-mai: Videll_ness@yahoo.com, Blog : vially20.wordpress.com. Semoga pembaca diberkati lewat cerpen ini. Terimakasih!! Penulis : Vially De LA Roza Titaheluw TTL : Jakarta, 20 Juni 1990 Kelas : 2 DB 07 Jurusan : Manajeman Informatika Hp : 085693206893

Comments on: "My CerPen" (1)

  1. Wah.. Ga nyangka, cerpen yang dibuat kurang dari 6 jam ini bisa jadi sebagus ini.. Teman-teman, Dosenku, sapa aja yang ada di lingkungan gunadarma, jangan ketinggalan membaca cerpen yang memberkati ini y!? dan kasih komentnya yang baik juga buruk yang penting ngebangun.. ok..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: